Kamis, 22 Agustus 2013

Sebuah Cerita Mengapa Harus Memulai Usaha di Rumah

cerita-usaha-dirumahSaya masih ingat suatu hari di tahun 1998 lalu, ketika saya memutuskan bahwa pasti ada yang lebih menarik dalam hidup ini ketimbang penilaian kerja bulanan yang sepertinya tidak habis – habis, target bulanan yang tidak dapat diraih , roti isi dalam kotak hampa udara, kopi yang rasannya hambar, lift yang macet, orang – orang yang sulit, dan jajaran manajemen yang benar – benar tidak saya sukai Sebagaimana banyak orang lain sebelum saya, dan sejak itu makin banyak lagi, saya memutuskan menghentikan karier saya dengan semua tunjangannya, termasuk liburan gratis, cuti sakit, dana pension yang berlimpah, dan gaji yang relatife layak, untuk berjalan sendiri dengan memulai bisnis. Saya ingin memulai buku ini dengan mengatakan bahwa tidak ada yang dapat  mengalahkan perasaan yang muncul ketika saya mengatakan kepada atasan saya apa yang akan saya lakukan dan perasaan bebas karena dapat mengganti hari – hari di neraka, bekerja di bawah cahaya lampu terang, dengan pengalaman yang benar – benar lebih saya sukai, yaitu menjalankan bisnis saya sendiri  yang sukses dan menikmati lebih banyak waktu luang sambil memperoleh uang tunai bertruk-truk serta menjadi sosok yang bisa mengundang iri di hati  teman – teman dan mantan rekan kerja.

Namun, kenyatannya tidak seperti itu.

Kegembiraan setelah mengataka kepada atasan bahwa saya akan berhenti bekerja kepada mereka,sayangnya,tidak berlangsung lama. Bahkan, aspek emosi berupa perasaan senang itu segera lenyap begitu tagihan – tagihan bulan berikutnya mulai terselip di bawah pintu depan rumah.

Mengapa saya menyampaikan hal ini kepada anda? Karena memulai bisnis anda sendiri akan menjadi salah satu hal paling menantang dan sulit yang barangkali pernah Anda alami.

Dan, bagi mereka yang mengikuti jalan ini, memulai bisnis juga merupakan pengalaman paling berkesan. Namun, saya tidak ingin Anda memulai bisnis dengan membawa kesan bahwa usaha itu bisa disamakan dengan melakukan pelayaran ringan.Tidak.Bagi mereka yang mendambakan rasa aman dan ingin manyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan baik pada akhirnya, memulai bisnis juga ada jaminan sukses. Jadi, jika Anda termasuk orang yang sekuat tenaga berusaha menghindari resiko, saran saya  adalah tetaplah menjadi karyawan atau pengangguran , kalau terpaksa.

Perjalanan untuk bekerja mandiri merupakan perjalan sulit dan tampaknya sering merupakan perjalanan yang tidak mungkin dilakukan karena hanya sedikit orang yang benar – benar mencapai kesuksesan nyata. Perhatikan bahwa saya tidak menggunakan istilah “sedikit orang beruntung” . karena dalam keberuntungan . Bahkan, keberuntungan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesuksesan. Saya sudah mendapatkan satu pelajaran berharga selama beberapa tahun terakhir , bahwa mereka yang memulai dan terus menjalankan bisnis mereka yang sukses, tidak menggatungkan diri pada keberutungan , saya yakin Andalah yang membuat keberuntungan Anda sediri. Tentu saya jika anda duduk di suatu tempat saat ini, sambil membaca buku ini dan berharap ada kejadian menguntungkan dalam hidup Anda, silahkan berhenti membaca, carilah toko terdekat yang menjual lotere, dan belilah sendiri satu atau dua lembar. Setelah itu, Anda dapat kembali duduk santai dan menunggu Dewi keberuntungan datang mengetuk pintu rumah anda.

Pilihan lainnya adalah Anda memutuskan seperti yang saya lakukan, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan kekhawatiran dan tidak peduli betapa keras Anda bekerja untuk orang lain, Anda tidak akan pernah benar – benar dapat mengendalikan hidup Anda sendiri. Jika Anda siap untuk hal itu, silahkan berkomitmen untuk bekerja keras di masa mendatang, bersiap menerima kegagalan, kekecewaan, rintangan, birokrasi, dan ketakutan, dan mulai menikmati keuntungan besar yang akan mengampiri Anda ketika Anda memulai bisnis Anda sendiri.

Mempersiapkan Diri untuk saat – saat sulit di waktu Mendatang

Setelah meninggalkan status sebagai karyawan bergaji, saya dilanda kegembiraan luar biasa. Sayangnya, perasaan ini tidak berlangsung lama. Enam bulan setelah memulai bisnis pertama saya, bisnis itu gagal total dan saya sama sekali tidak bisa membayar pinjaman serta tagihan rumah tangga. Dalam keadaan putus asa, saya terpaksa kembali menjadi karyawan. Pada saat itu, rasanya saya seperti mendapat hantaman keras karena harus mencari pekerjaan lain yang gajinya terlalu sedikit dibandingkan gaji yang sebelumnya pernah saya terima sebagai karyawan, tanpa memperoleh fasilitas apa-apa.

Bahkan, bayangan tentang roti isi dalam kotak hampa udara, lampu terang, dan lift yang macet, semuannya tampak bagaikan impian dibandingkan pekerjaan saya yang baru, yang situasinya jauh lebih buruk dibandingkan pekerjaan saya sebelumnya.

Pada saat itu, saya berjanji kepada diri sendiri – untuk bangkit lagi, mengatasi ketakutan saaya akan kegagalan dan sesegera mungkin jika saya mampu, kembali menyelam dalam dunia bekerja mandiri, tapi kali ini dengan persiapan lebih matang daripada sebelimnya. Maka, saya mengisi waktu dengan bekerja untuk orang lain sebaik mungkin. Saya bekerja keras dan berkomitmen pada pekerjaan saya yang baru : Bagaimanapun, kegagalan saya berbisnis bukanlah kesalahan atasan saya. Namun, kemudian, pada suatu hari saya menyadari bahwa saya sekali lagi terperangkap dalam rutinitas jam kerja dari pukul Sembilan sampai pukul lima, Senin sampai Jum’at, dan meskipu sudah dipromosikan tiga kali dan saya sekarang mendapat gaji lebih banyak daripada sebelumnya, saya masih ingat mengapa saya harus kembali menjadi karyawan. Itu adalah akibat dari semua tagihan yang harus saya lunasi sampai saya dapat meniggalkan pekerjaan ini lagi.

Pada hari ini saya meninggalkan pekerjaan ini,saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan pernah kembali bekerja untuk orang lain. Tidak peduli seperti apapun situasinya , tidak peduli sampai serendah apa pun hidup saya akan tenggelam, bahkan jika saya terpaksa harus kehilangan rumah, semua perabot, dan sebagainya,saya tidak akan pernah malu menjadi karyawan lagi.

Hingga kini, saya tetap mempertahankan janji ini.

Sekarang, bisnis saya sukses dan saya menikmati setiap menit kehidupan kerja saya. Sejak meninggalkan dunia kerja sebagai karyawan, kesehatan saya membaik saya lebih bahagia, dan saya mengendalikan sendiri jalan hidup saya serta orang-orang yang saya sayangi tanpa harus bergantung pada belas kasihan orang lain.

Bekerja mandiri bukanlah untuk semua orang. Seperti yang sudah saya katakan, tidak semua orang cocok dengan kehidupan semacam ini, yang mungkin akan segera anda sadariketika bisnis anda mulai tumbuh dan anda pelru mempekerjakan orang-orang yang berbakat untuk bergerak ketingkat berikutnya.

Sudah tentu ada beberapa orang yang akan membaca cerita ini dan begitu mereka mengakui betapa beratnya jalan yang terbentang di depan, mereka akan memutuskan untuk tetap berada di tempat mereka sekarang. Baguslah jika demikian. Setelah melakukan investasi relative kecil dengan membeli dan membaca buku ini, mereka menyadari bahwa bekerja mandiri tidak cocok bagi mereka. Hal ini lebih baik dari pada terlambat menyadari, sesudah mereka kehilangan segalanya.

Tidak setiap orang mempunyai keinginan untuk bekerja mandiri. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bekerja mandiri dapat menjadi jalan sulit, seringkali jalan yang panjang dan seolah tanpa akhir. Namun, bagi mereka yang tekun dan yang lebih penting lagi, begi mereka yang berjalan dengan beban ringan serta membawa peta, jalan itu dapat benar-benar menjadi lebih mudah.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon