Jumat, 24 Mei 2013

Manfaatkan Peluang Bisnis

peluang-bisnisBagi calon pebisnis pemula yang masih `gelap' dengan rencana bisnis -apalagi bagi yang tidak punya rencana- barangkali pendapat Anda benar, jika keuntungan itu ditemukan secara tiba­-tiba. Memang ada beberapa peluang strategis yang bisa dimanfaatkan

Untung Bakri) (49), tadinya seorang petani miskin asal Lampung. Ketika tidak bertani dia jadi pemulung sampah dan setiap hari pun kerjanya mengkorek-korek sampah orang untuk mencari benda-benda yang bisa dijual, seperti plastik, kaleng atau barang-barang bekas. Suatu hari, is menemukan gundukan isi bush rambutan yang jumlahnya sangat banyak di tempat sampah orang lain. Biji-bijian itu sudah berkecambah dan mulai tumbuh daun. Maka diambillah biji-biji tersebut dan dibawanya pulang, lalu ditanam di kaleng-kaleng bekas yang jumlahnya hingga 60 lebih. Ia rawat baik-baik hingga mencapai tinggi satu meter. Konon, ketika desanya tersebut diadakan penghijauan, bibit rambutannya itu ikut terjual dengan harga lumayan.

Sejak itu, Untung menjadi pemulung biji-bijian mangga, duren, rambutan, kedondong dan sirsak dari tong-tong sampah, selain juga memburu buah-buah busuk yang tidak laku di pasar. Pekarangan kecilnya pun penuh dengan pot-pot kaleng bibit tanaman, serta merta dia pun dapat pesanan dari banyak perkebunan. Beberapa tahun kemudian, is menyewa tanah kosong tetangganya yang cukup luas. Disanalah bibit-bibit tanaman itu dirawat dan dipupuk lalu dijual, khususnya ke pada para pelanggan. Sesudah itu, is pun mencoba membuat bonsai (tanaman pendek buah-buahan), hingga berhasil berbuah. Kreatifitasnya muncul lagi, dengan mengawinkan beberapa spesies bunga Bougenville hingga mencapai tiga-empat warna serta membentuk hibrida bunga-bunga lainnya.

Semua usahanya berhasil dan is merekrut beberapa karyawan. Berkat kreativitasnya itu is pun mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah per tahun serta berhasil menyekolahkan dua anak lelakinya hingga Perguruan Tinggi.

Sementara itu, Ipah Datipah (59) adalah seorang ibu rumah tangga di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, Pada tahun 1969, wanita ini melihat banyak susu murni yang terbuang percuma. Merasa sangat sayang, lantas iseng-iseng is memanfaatkannya jadi permen karamel. Dengan menyisihkan uang belanja dari suaminya, Ipah membeli limbah susu yang tersebar di peternak-peternak sapi. Permen karamel itu diciptanya dari bahan-bahan : susu segar dicampur gula, diaduk-aduk sampai lima jam lamanya dalam wajan. Sesudah itu dicetak, didinginkan lalu dibungkus.

Dagangannya semula hanya dibungkus plastik murah. Lalu dijualnya ke pada anak-anak sekolah. "Ternyata permen itu sangat laku," katanya gembira. Karena, disamping harganya murah, rasanya pun enak. Beberapa lama, permintaan pun semakin banyak hingga ke kios­kios dan pasar. Susu murninya pun kemudian is beli dari Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) di Ke­camatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Saking lakunya, is pun meraih untung hingga permennya dikemas dalam plastik khusus berlabel dan jadi terkenal. Kini permen karamelnya sudah menyebar ke daerah lain, yaitu Bandung dan Jakarta.

Selanjutnya Ipah pun mendirikan pabrik seluas 220 meter persegi, merekrut beberapa karyawan untuk menjalankan industri kecilnya itu. Untuk hasil ciptaannya itu, dia pun berhak mendapatkan hadiah Upakarti Jasa Pengabdian dari pemerintah tahun 1992, karena dianggap telah berjasa dalam memanfaatkan limbah susu terbuang di kecamatan Pengalengan.

Kedua orang di atas adalah pengusaha/UIKM yang beruntur dapat 'petunjuk jalan' untuk melakukan bisnis. Mereka tidak membuat rencana apapun sebelumnya. Apalagi mencatat seta, rinci apa-apa yang akan mereka lakukan untuk berbisnis. Mereka beruntung. Itu saja. Ketika belum memiliki penghasilan, mereka tiba-tiba menemukan peluang yang bisa jadi bisnis. Lalu keduanya pun mencoba bisnis, kerja keras serta membuat rencana untuk mendatangkan keuntungan yang lebih bat4yak lagi dan berhasil. Sementara itu, banyak calon entrepreneur yang tidak dapat petunjuk, tapi justru mencari peluang strategis, mencari­cari bisnis yang sesuai, sehingga banyak kegagalan di tengah jalan. Jika mereka tidak gigih dengan semangat juang untuk terus belajar -yang menjadi ciri khas seorang pengusaha- mereka pun gagal dan gagal.

Namun banyak yang menyatakan, bisnis seseorang tidak akan gagal terus menerus jika dia mampu mempelajari pengalaman diri sendiri atau orang lain, kreatif, inovatif dan memiliki keterampilan dan pengetahuan, seperti

1. Keterampilan Teknis (Teknologi) - ini adalah kemampuan praktis yang diperlukan untuk membuat produk atau menyediakan jasa usaha. Misalnya untuk memulai usaha makanan, Anda harus mampu masak dan tahu cara membuatnya. Begitupun, usaha menjahit, maka Anda harus tahu cara mengukur badan orang lain, memotong kain dan menjahit. Begitu pun untuk memulai usaha bengkel perbaikan mobil, Anda harus tahu onderdil mobil dan mampu memperbaiki mesin. Apabila tidak punya keterampilan tersebut, maka Anda dinilai lemah. Diperlukan pengetahuan yang dapat memberikan nilai tambah (Added Value).

2. Keterampilan pengelolaan usaha - Disini Anda harus terampil bidang pemasaran, pembiayaan, pembukuan dan yang penting adalah keterampilan dalam mengatur karyawan.

3. Usahakan mendapat lokasi bisnis yang strategis - Lokasi strategis sangat menentukan banyaknya konsumen / pelanggan. Karena itu, usahakan mendapatkan lokasi bisnis di tempat berkumpulnya kegiatan-kegiatan, seperti perkantoran, sekolahan, kampus, tempat olah raga atau sentra perkumpulan anak-anak muda.

4. Pengetahuan Tentang Jenis Usaha Anda – Apalagi Anda mempunyai pengalaman baik dan pengetahuan tenta jenis usaha yang akan Anda mulai, maka .Anda akan terhindar dari kesalahan-kesalahan umum. Namun ketika kesalahan itu terjadi, hal tersebut akan menambah pengalaman Anda

Artikel Terkait

1 komentar so far

[...] Saikem punya peruntungan yang baik sekarang. Nampaknya, dengan mudah saja usaha mereka membesar dan jadi entrepreneur sukses dan mulai kecukupan / kaya berkat bakminya. Padahal semua itu mereka jalankan dengan berbagai [...]


EmoticonEmoticon