Senin, 13 Mei 2013

Kiat Membangun Kesuksesan

successBanyak yang punya teori, untuk jadi kaya seseorang tidak perlu sekolah. Faktanya, lebih banyak orang yang jebol sekolahnya hanya mampu melakukan wirausaha beternak ayam, bebek, kue-kue kering, roti, permen caramel, kerajinan, hingga melakukan ekspor. Sebutan bagi mereka adalah Pengusaha Kecil dan Menengah. Itu sudah bagus. Tapi hanya sampai di situ! Banyak dari mereka yang kurang/tidak mampu melakukan inovasi. sehingga hanya sukses tanpa pengembangan bisnis-bisnis lair.

Kecuali segelintir di antara para entrepreneur yang `kebetulan punya garis tangan jadi konglomerat seperti Sudono Salim atau liem Sioe Liong, Bob Hassan, Siti Hardiyanti Rukmana, Tomy Winata, Mooryati Soedibyo dan Bob Sadino, bahkan Bill Gates, Donald Trump, mereka adalah para multi miliuner yang tidak lulus dari Perguruan Tinggi, tapi berhasil melampaui kekayaan para lulusan Harvard Business School yang jadi profesor, peneliti, konsultan atau para pejabat .... Faktanya, mereka yang minimal pernah jadi mahasiswa dan suka baca, biasanya mampu lebih kreatif, inovatif, lebih terstruktur dan sistematis  serta memiliki pede  yang jauh lebih kuat dalam menjalankan banyak bisnisnya. Apalagi lulusan S1, S2, S3. Contohnya, Helmy Yahya (Alumni STAN dan S2 di University of Miami,AS), Tung Desem Waringin Alumni Universitas 11 Maret), AA Gym (Alumni Unjani), Ir. Ciputra (ITB) dan lain-lain.

Paparan Robert T.Kiyosaki, bahwa orang tak perlu sekolah bahwa berniat jadi entrepreneur, nampaknya kurang afdol. Karena, ilmu yang kita pelajari di Perguruan Tinggi sangat bermanfaat untuk menambah wawasan serta bisa dipakai dalam menganalisa segala permasalahan yang kian mengglobal. Begitu pun, untuk mengerti isi buku dan cara berpikir Robert T.Kiyosaki, seperti dalam bukunya `Rich Dad, Poor Dad', tentunya dibutuhkan orang-orang yang sedikitnya pernah duduk di perguruan tinggi atau seorang otodidak. Sementara itu, bagi para CEO yang kebanyakan juga sebagai entrepreneur atau pendiri perusahaan, bekerja keras sudah merupakan gaya hidup. Belajar juga sangat penting, karena persaingan domestik maupun global yang semakin terbuka tampaknya akan menjadi pemicu para entrepreneur kembali menuntut ilmu apa saja. Karenanya, belakangan ini justru banyak CEO yang merasa harus terus menerus belajar, guna menghadapi masalah dalam bisnisnya masing-masing.

"Jika kita memiliki impian besar, maka kita harus berusaha mewujudkan impian itu supaya jadi kenyataan"


Tantowi Yahya (presenter, MC, Entrepreneur), terus belajar berbagai bahasa di dunia agar dapat meraih obsesinya jadi presenter internasional. Philip S.Purnama (Chief Commercial Officer Bogasari Indofood), setiap dua pekan di akhir tahun selalu riset buku di perpustakaan Harvard Business School, karena di sini bisa ditemukan koleksi riset tentang strategi bisnis perusahaan terkemuka seluruh dunia. "Saya perlu meningkatkan kemampuan manajerial bukan untuk Asia, tapi dunia," ujarnya. Noke Kiroyan (CEO PT. Kaltim Prima Coal), bekerja sembari belajar melalui studi independen maupun studi jarak jauh di luar negeri,"Kalau tidak belajar, bisa­-bisa kita ketinggalan akan perubahan zaman," katanya. Shanti Lasminingsih Poeposoetjipto (Managing Director PT Ngrumat Bondo Utomo), sejak memasuki dunia kerja, mengaku selalu belajar. Tak terhitung keikut­sertaannya dalam kursus dan program non gelar di dalam maupun luar negeri, disamping gelar formalnya sebagai Diploma Ingeneur yang diraihnya clan Technical University, Munich, Jerman.

Sementara, Soichiro Honda (Pendiri Perusahaan Honda), memang tidak percaya dengan secarik ijazah, namun dia percaya dengan ilmu pengetahuan dengan praktek. Lee Iacocca (Mantan Presiden Chrysler), mengatakan, pendidikan formal memang dapat memberi banyak pengetahuan, namun banyak ketrampilan penting di dalam kehidupan yang harus dikembangkan sendiri. Robert Townsend (Penulis 'Up The Organization') mengingatkan, sebaiknya perusahaan tidak mempekerjakan para lulusan Harvard Business School, karena mereka hanya tahu teori. Socrates (470-399 SM), juga tidak pernah memiliki ijazah untuk menjadi seorang filsuf besar dan ahli geometri, Matematika, Astronomi seperti yang kita kenal di dalam Dialog-dialog Plato. Seorang entrepreneur dan pembelajar sejati yang punya moto: learning by doing dan life long learning, adalah orang yang berani hidup. Kadang juga berani mat. Namun, ketika dia masih bernapas maka hidupnya harus punya arti. Berani hidup berarti dia harus berani menghadapi resiko seberat apapun, karena mengambil keputusan untuk menjadi entrepreuner berarti berani dan siap menghadapi resiko.

Di dunia ini jelas, banyak perusahaan yang bangkrut setelah mencapai kesuksesan bisnis di masa lalunya. Semisal, PT Texmaco yang semula masuk dalam kategori Perusahaan Kelas Dunia (World Class Manufacturing Services Model/WCM-S Model - dalam tulisan di buku saya). Tragisnya sekarang sudah pailit dengan merumahkan karyawannya yang jumlahnya di atas sepuluh ribu. Begitu juga, Harian 'Merdeka' dan `Indonesian Observer', 'Surabaya Pos' atau koran-koran besar era Bung Karno hingga Soeharto, langsung bangkrut ketika pemiliknya tiada. Mereka juga tak mampu menahan resiko perubahan zaman.

Di luar negeri, banyak pula entrepreneur yang tadinya sukses, seperti Charles Schwab, Leon Frazier, Artur Cotton, Albert Fall, Ivan Kruger dan lainnya yang kisah hidupnya berakhir dengan, keterpurukan, hingga mengakibatkan di antaranya mati, bunuh diri, masuk R.S Jiwa, dalam kemelaratan atau ada yang, meninggalkan banyak hutang. Itu soal biasa. Karena, resiko adalah bagian dari bisnis dan hidup, inheren dengan pekerjaa, apa saja termasuk menjadi entrepreneur. Karena itu kebanbanyakan entrepreneur harus Berani Ambil Resiko

Ramin Kamfar (Pendiri New World Cofee Manha­ttan Bagel Inc), dengan

keberaniannya memborong jaringan perusahaan roti bagel dari beberapa negara bagian, AS, yang hampir bangkrut. Menurutnya, membeli perusahaan yang nyaris bangkrut bukanlah resiko, "Rahasianya adalah belajar untuk dapat mema­najemeni resiko dan pasti­kan bahwa semua resiko sudah diperhitungkan," katanya. Kini usahanya telah membuahkan hasil bisnisnya menjadi jaringan terbesar di Amerika. Rupert Murdoch (Konglo­merat Media Masa asal Australia), adalah orang yang senang membeli banyak perusahaan pers yang hampir bangkrut de­ngan berani mengambil resiko. Namun nampaknya dia memang ahli dalam mengelola berbagai media nya sehingga iapun dapat julukan 'Raja Pers'. Todd McFarlane adalah pelukis buku komik "Spiderman" terbitan Marvel Comic. Komik itu melegenda dan sukses. Namun dalam tahun yang sama, dia menerbitkan komik sendiri "The Spawn" dengan berani mengambil resiko melalui keberanian dan kene­kadannya semata. "The Spawn' pun meraup keun­tungan luar biasa, terlebih setelah ceritanya diangkat ke layar lebar "Saga menggu­nakan pelajaran dari sebuah kegagalan, sebagai bekal untuk masa depan," katanya.

Banyak syarat yang dibutuhkan untuk jadi seorang entrepreneur sukses. Antara lain adalah, keberanian yang seperti mereka miliki. Ada beberapa keberanian dalam melakukan bisnis yang menurut banyak entrepreneur sukses adalah :

  1. Berani Menjadi Entrepreneur - Untuk jadi entrepreneur memang dibutuhkan suatu keberanian dan pengorbanan. Misalnya, jika tadinya sisa dana Anda dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari, maka ketika buka usaha, Anda harus mengalokasikan sisa dana tersebut sebagai modal. Akibatnya Anda -mungkin- harus puasa. Bila sehari-hari Anda makan nasi, maka harus diganti bubur tanpa lauk pauk.

  2. Berani Mencoba - Berani mencoba, sama halnya dengan berani kehilangan modal usaha. Namun semua itu harus pakai perhitungan, ketika mencobanya Anda harus tahu dan terus berusaha agar tidak rugi, minimal dapat Break Event Point (BEP atau modal Anda bisa diperoleh kembali.

  3. Berani Tidak Malas-malasan -  Untuk berbisnis, Anda harus mengubah kebiasaan malas jadi rajin dan bersemangat karena tujuan usaha jelas untuk mendapatkan uang. Jadi anggaplah hari ini Anda harus mengejar keuntungan dengan menawarkan produk Anda kemana-mana. Berbisnis berarti juga Anda harus senantiasa bepergian. Tidak mungkin kita ongakng-ongkang tinggal di rumah terus, lalu dapat uang.

  4. Berani Disiplin - Hal ini sama dengan tidak malas malasan. Misalnya, kalau kebiasaan Anda bangun siang, kini wajib bangun pagi-pagi sekali, mandi, shalat, berpakaian rapi dan mempersiapkan segala sesuatunya secara teliti.

  5. Berani Berjuang - Segala sesuatu yang Anda kerjakan  harus di dasari dengan tekad perjuangan, karena berbisnis apapun dan dimanapun sama dengan sebuah perjuangan. Dalam hal ini Anda, harus sanggup bekerja keras, gigih dan totalitas kalau mau serius.

  6. Berani Gagal - Jika Anda gagal berbisnis, Anda sudah mempersiapkan mental karena berani terjun ke dunia bisnis adalah berani menanggung resiko. Anggaplah kegagalan tersebut akan tergantikan di masa mendatang.

  7. Berani Sukses - Jika sukses pun, Anda sudah menyiapkan mental agar tetap tenang dan terus berusaha untuk meraih sukes yang lebih.


Masing-masing keberanian di atas akan mengandung resiko yang sama. Ialah, kegagalan bisnis. Namun kegagalan itu jangan sampai membuat diri Anda jadi puts asa. Anggaplah, perjuanga bisnis sama dengan perjuangan hidup ini, dimana ada gagal pasti ada sukses.


Sementara itu sebagai seorang entrepreneur sukses pada dekade ini, Helmy Yahya mengatakan, orang yang berani menjadi seorang entrepreneur adalah mereka yang berani bekerja keras tiga kali lipat, dibandingkan kerja keras pekerja lain. Begitu pun, fighting spiritnya harus luar biasa.

Dia sendiri mengakui, waktu 24 jam masih sangat kurang baginya guna mengejar semua kesuksesan pekerjaannya, "Untuk mencapai sukses, otak pintar saja tidak cuku. Tapi  keberanian bertindaklah yang nomor satu. Khususnya ketika kita melihat sebuah peluang, " katanya, seraya menambahkan bahwa yang disebut 'peluang' datangnya tidak dua kali.

Contoh umumnya adalah sebagai berikut

Seorang pengangguran intelek, usia 29 th, mendapat dua        tawaran kesempatan untuk berkembang dalam satu waktu. Pertama, dia diterima menjadi Branch Manager sebuah perusahaan besar dengan gaji besar. Kedua, dapat tawaran melanjutkan studi di luar negeri (Amerika Serikat) selama dua tahun saja. Manakah yang akan ia pilih? Kalau dia memilih kerja, kesempatan melanjutkan studi tentunya hilang begitu saja. Begitupun sebaliknya. Jadi salah satunya harus berani dikorbankan dan harus pula ada diputuskan yang paling tepat. Dan, keputusan apapun buat dia harus berani dicobanya dan dijalankan.

Sama halnya ketika seseorang pengangguran dapat satu tawaran untuk bekerja. Mau tak mau, seharusnya ia berani mencoba melakukan pekerjaan tersebut -ketimbang nganggur- walaupun dia tak suka dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan. Dan, tentunya peluang itu kalau tidak dia terima maka akan diberikan kepada orang lain.

Sesudah dia mencoba bekerja dan ternyata gagal, seharusnya is pun berani mencoba lagi. "Karena, tidak ada satu pun pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, selama dia masih  melek", demikian pepatah kuno.  Jadi, untuk mencapai keberhasilan, calon karyawan itu pun harus berani untuk tidak malas-malasan dan harus berani berjuang. Namun demikian, kalau usaha apapun mentok dan gagal, dia tetap harus berani menerima kegagalan dengan resiko dikeluarkan dari perusahaan. Sebaliknva kalau sukses, maka itulah hasil karyanya yang aka memberikan kepuasan.

Berani gagal atau sukses dalam dunia kerja di atas, masih belum seberapa dibanding dengan orang yang sudah terjun di dunia Entrepreneur. Karena, kalau belum punva pengalam resikonya adalah kegagalan bidang finansial (modal). Namun, tanpa jatuh bangun dari kegagalan, seseorang tidak bisa jadi entrepreneur sejati, karena kegagalan adalah harga yang harus dibayar untuk jadi sukses. Kegagalan adalah merupakan investasi atau proses pendidikan bagi entrepreneur. Begitupun, sebelurm ketakutan akan kegagalan itu datang, seorang entrepreneur sejati tidak akan mudah percaya begitu saja sebelum mencobanya.

 

 

Artikel Terkait

3 komentar

Untuk sukses selain butuh ilmu juga butuh pengalaman maupun action. Itu menurut saya. Niat dan doa apalagi

Yes, Niat, doa, ditambah dengan usaha yang tidak kenal menyerah

[...] menjadi pilihan Anda maka selain punya keberanian seperti di atas, Anda juga harus punva suatu kesanggupan yang jarang dimiliki orang lain. Ada 8 kunci sukses jika anda ingin menjadi entrepreneur ataupun pebisnis online yang mandiri [...]


EmoticonEmoticon