Rabu, 15 Mei 2013

Bisnis Itu Bisa di Pelajari

BisnisDi dunia ini, memang hanya orang-orang tertentu sajalah yai punya bakat dan insting bisnis yang kuat. Sebutan lainnya yaitu,  Kecerdasan Wirausaha (Entrepreneurial Intelligence). Sama halnya dengan mereka yang punya bakat dan kecerdasan alami lainnya.  Misalnya, para penemu ulung, para ahli ternama, sastrawan seniman atau pengarang dan lainnya. Mereka pada umumnya  pernah mendapat semacam ilham, ingin mengerjakan sesuatu yan baru. Namun terlebih dulu mereka juga harus menelaah masalahnya, lalu merencanakannya dan sebelum berhasil menciptakan sebuah karya, mereka tentu saja harus harus bekerja keras, penuh kesabaran dan ketekunan. Mungkin saja penemuan mereka yang eksklusif itu tidak ditemukan orang lain.

Tapi percayalah, ilmu bisnis bisa dipelajari secara langsung ketika mereka mempraktekkan usahanya dengan berani gagal lalu berani bangkit lagi.

Memang, untuk mencapai kesuksesan bisnisnya para  entrepreneur dimanapun punya kiat-kiat sukses yang nyaris sama. Ketika diadakan survei terhadap 575 entrepreneur sukses di Amerika Serikat (AS), di antaranya adalah Jack Welch (General  Electric), Bill Gates (Microsoft),  Lou Gerstner (IBM, Fred Smith  (Fedex), Michael Eisner (Walt Disney) dan lain-lain, terdapat inii kiat-kiat yang mirip satu sama lain. Ciri tersebut juga nyaris sama dengan yang dilakukan para entrepreneur dari Indonesia. Bedanya hanya terletak pada sikap 'amanah' orang timur.

Ciri-ciri yang mirip itu adalah :


  1. Mampu Maju Terus - Mampu melihat maju mundurnya masa depan bisnis sendiri dengan selalu memperbaiki kesalahan diri secara berkesinambungan seraya maju terus.

  2. Mampu Hadapi Tantangan - Mampu menghadapi tantangan dengan bekerja keras serta pantang menyerah, seraya memusatkan perhatian pada suatu tujuan yang spesifik dan mengambil tindakan selanjutnya sampai tuntas.

  3. Cerdas & Disiplin - Mampu menjalankan bisnis dengan cerdas dan penuh disiplin, seraya mempersiapkan suatu perencanaan bisnis yang jelas dan secara periodik melakukan perbaikan.

  4. Komuniskasi yang Baik - Mampu melakukan komunikasi dengan banyak orang, terutama dengan bankir dan kreditor Anda. Usahakan agar komunikasi dengan mereka tetap terbuka.

  5. Mencintai yang sedang ditekuni - Mencintai bisnis adalah di atas segalanya. Hal tersebut sangat penting. Bagaimana bisnis akan maju, tanpa ada pengorbanan tenaga dan pikiran.

  6. Positif & Fleksibel - Mampu bersikap positif, fleksibel dan tidak su'udzon (prasangka negatif). Anda harus mau mengubah cara Anda beroperasi, memperbaiki produk jasa secara terus menerus sebagai respons Anda terhadap kebutuhan pelanggan.

  7. Memiliki stamina dan sehat wal'afiat - Tanpa kesehatan yang prima, seorang pebisnis tak mungkin mampu bekerja, berbisnis dan berkomunikasi dengan baik. Kesehatan adalah sangat penting bagi seorang pebisnis.

  8. Miliki kepedulian terhadap orang lain - Lakukan yang mampu Anda lakukan dengan segala upaya tawarkanlah persahabatan dan membina hubungan jangka panjang atau membangun kredibiltas dengan pelanggan baru

  9. Jiwa Kepemimpinan Seimbang & Miliki Tim yang baik - Miliki keseimbangan jiwa kepemimpinan serta tim yang baik. Pilihlah karyawan yang menopang secara emosional. Jangan sampai Anda dibuat mundur oleh siapapun. Bila ide Anda baik dan Anda telah berjanji mewujudkannya dalam beberapa tahun yang sulit, kesempatan Anda meraih sukses biasanya cukup besar.

  10. Kualitas Bisnis Tentunya seorang pebisnis tidak ingi gagal, karena itu mereka memiliki konsep manajerial dan memilih kualitas bisnis sebagai fokus dan sasaran utama.

  11. Rendah hati (Zuhud) Memiliki kerendahan hati Karena, seorang pebisnis biasanya percaya, kesombongan adalah awal dari kegagalan/kehancuran.


Seorang entrepreneur pemula tidak secara otornatis dapat memiliki mental seperti diatas, tetapi dia akan dituntut secara alami untuk memihki sifat-sifat tersebut. Ia harus mampu melatih diri dengan merendahkan egonya, demi pembelajaran hing­mengenal manusia banyak. Kemampuan itu wajib dipelajari sedikit demi sedikit dan harus terus belajar serta mengasah kemampuannva, ketika ia melakukan praktek usaha sampai pawai sejalan dengan perkembangan usaha.

Sebagai entrepreneur, belajar bisa dilakukan sendiri ­(otodidak). Dia memang perlu guru alami, seperti pengalaman pribadi, pengalaman orang lain dan buku atau bacaan yang dapat menunjang kemampuannya. Begitupun, dia dapat menyimak  acara-acara yang terkait dengan dunia entrepreneur di televisi mengikuti seminar, bertanya, diskusi dan lainnya.

Anda sangat dianjurkan mengikuti kiat sukses para entrepreneur seperti di atas, terutama nyontek keyakinan  mereka ketika mengambil keputusan untuk memulai. Sebab, untuk  memulainya  memang sulit. Inilah 1% kendala yang hanya bisa di atasi oleh calon entrepreneur itu sendiri, ketika mau melangkah ke dunia bisnis.

Contoh Kasus : To be successful you have to be lucky, or a little mad, or very talented or to find yourself in rapid growth. Begitu tulis Bondan Winarno, mengutip kata­-kata Edward de Bono dalam buku, 'Tactics, the art and Science of Success : Bondan kemudian mengisahkan bahwa, niat 'rada' gila Tirto Utomo, pendiri produk botolan air mineral 'AQUA' yang saat ini telah memasuki tahun ke-8 (diluncurkan sejak tahun 1974) ternyata masih tetap jaya hingga kini. Bahkan trade-marknya justru menjadi mascot bagi setiap air mineral botolan yang kini marak dijual. Kendati Aqua punya puluhan pesaing produk air mineral lain yang dulunya menganggap berdagang air putih merupakan usaha gila­ toh usaha dagang air mineral yang konon harganya lebih mahal ketimbang bensin, justru saat ini sangat membumi di negara berkembang.

Pada mulanya, Tirto Utomo menggagas akan jualan air. Karena, banyak perumahan yang tidak dapat mengkonsumsi air secara langsung dari sumbernya tanpa digodok. Maka muncullah idenya itu jadi kenyataan. Ketika kemasan air itu beredar dalam botolan, orang pun merasa ganjil. Gerangan orang gila manakah yang jualan air putih, tanpa rasa dan warna. Harganya juga relatif mahal. Khususnya, seperti yang dirasakan oleh kalangan bawah. Tak heran, bila Tirto pun menghadapi kesukaran dalam memasarkan produk itu. Untuk menjual sejuta liter per bulan saja perusahaan harus jungkir balik mempergiat pemasaran.

Namun pada tahun-tahun berikutnya, omset penjualannya secara pelan-pelan naik. Bahkan iapun kemudian menebar pabriknya hampir diseluruh penjuru kota. Air mineral dalam kemasan, saat ini bukan lagi lambang status. Tapi sudah jadi kebutuhan masyarakat umumnya. Begitu haus, orang pun tanpa pikir panjang mengeluarkan koin Rp 500-an lalu minum, ketimbang harus lari ke warung, sementara airnya pun harus digodok dulu.

 

 

Artikel Terkait

1 komentar so far

[...] Utomo. Mungkinkah cita-cita Anda untuk kaya dan sukses bisa tercapai? Keberanian Anda untuk bisa mengambil keputus memulai itulah yang akan menjadi pertaruhan masa depan Anda dalam berbisnis walau pada mulanya dianggap ide [...]


EmoticonEmoticon